TGH. Ahmad Barizi
25 Desember 2015 17:13:16 WIB
TGH. Ahmad Barizi
Sosok pantang menyerah nan cerdas
Montong Gamang- Loteng. Hujan rintik-rintik seakan tak menyurutkan niat TIM Sistim Informasi Desa (SID) untuk bertemu dengan salah seorang tokoh muda yang kharismatik nan cerdas di desa Montong Gamang, siapa lagi kalau bukan Tuan Guru (TGH). Ahmad Barizi. Putra asli Desa Montong Gamang yang juga merupakan salah satu tokoh muda yang saat ini menjadi panutan bagi semua kalangan.
MASA-MASA SULIT SAAT MENGENYAM PENDIDIKAN
Suasana hujan diserta hawa dingin pada malam itu tak menyurutkan semangat dia untuk berbagi cerita dan pengalaman selama masa hidupnya. Siapa yang tahu kalau sosok Tuan Guru Muda yang saat ini menjadi panutan banyak orang, memulai kisah hidupnya dengan sangat sederhana dan sarat emosi. “saya dulu sekolah dengan tertatih” ungkapnya saat mulai bercerita. Tak ayal dengan kondisi serba terbatas dan harus berbagi dengan tujuh saudara-saudaranya, dirinya mengaku kalau masa-masa sekolah dilalui dengan cukup berat. Banyaknya saudara serta keterbatasan ekonomi pada saat itu membuat orang tua hanya mampu memberikan makanan pokok berupa ubi cincang dicampur dengan sedikit nasi. Kondisi ekonomi yang lemah tentunya sangat berpengaruh dalam proses menuntut ilmu. Tuan Guru yang bernama asli Sapriadi ini sempat merasakan putus sekolah pada saat kelas lima Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tiga tahun pasca putus sekolah, dia kembali mengenyam pendidikan di jenjang yang sama yaitu di Sekolah Dasar (SD), Namun bukannya duduk di kelas enam SD, dia malah lebih memilih duduk di Kelas dua. “ ya,,, saat itu saya lebih memilih duduk di kelas dua SD, karena teman-teman sepermainan saya rata-rata duduk di kelas dua” ceritanya. Selepas SD, kondisi ekonomi tidak mengalami peningkatan berarti, namun dengan keinginan yang kuat, dia melanjutkan pendidikan kejenjang selanjutnya, tentunya dengan segala keterbatasan. “Masa MTs dulu tidak banyak berubah dengan kondisi sebelumnya, saya jalan dari rumah sampai Sekolah, tapi Alhamdulillah, selama masa studi saya mendapatkan beasiswa dari sekolah sehingga saya tidak begitu susah dengan biaya sekolah” ceritanya.
Selepas dari Madsarah Tsanawiyah, larangan untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggipun mulai berdatangan dari keluarga. “cukup sudah kamu sekolah sampai Tsanawiyah” ungkapnya, ketika menceritakan larangan bapak dan keluarganya pada saat itu. Namun dengan keinginan yang dalam untuk memperdalam ilmu agama, Tuan Guru kelahiran 1980an ini melanggar larangan orang tua dan keluarganya, dia tetap bersikokoh melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah. “pada saat Aliyah dulu, saya melanjutkan di Darul Mahmudien NW Montong Gamang, tapi itu hanya bertahan selama empat Bulan, setelah itu saya pindah ke Madrasah Darul Muhiddin NW Debok Lombok Timur untuk memperdalam ilmu agama. Uang saku saya pada saat hanya Rp.5000/minggu” ungkapnya seolah-olah menegaskan kembali kondisi yang berat pada saat itu, hari demi hari dia lalui dengan sabar dan penuh semangat untuk belajar.
Usai melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah Darul Muhiddin NW Debok, Tuan Guru yang dulu sempat bercita-cita menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) ini menyampikan niat ke orang tua dan saudara-saudaranya tentang keinginan melanjutkan sekolah ke Ma’had Ali NW Anjani. Mengetahui keinginan tersebut, orang tua dan saudara-saudaranya tidak ada yang menyetujui, “semua melarang saya melanjutkan sekolah” ceritanya. Kondisi tersebut terus terulang disetiap kali dia ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Puncaknya ketika dia ingin melanjutkan sekolah ke As-Sholatiah Mekkah. Orang tua dan saudara-saudaranya melarang keras niat tersebut. Bagaimana tidak, selama menempuh pendidikan dari Aliyah-Ma’had ternyata kedua orang tua menyisakan hutang yang cukup banyak. “kurang lebih hutang bapak pada saat itu 40 juta, terpaksa beliau menggadaikan tanah warisan untuk membiayai saya sekolah” ungkapnya. Kondisi lain yang dia alami pada saat itu berupa cemooh dari masyarakat sekitar, bagaimana mungkin anak seorang tukang kayu mampu melanjutkan sekolah ke Mekkah, rasanya sangat mustahil, apalagi dengan kondisi terlilit hutang yang begitu banyak. Dengan terus berusaha menyakinkan kedua orang tua dan tentunya berdoa, niatan untuk melanjutkan sekolah ke Mekkah pun direstui kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Setelah mendapatkan restu, timbul lagi masalah baru, yaitu dari mana uangnya? Akhirnya dengan tidak ada pilihan lain, kedua orang tuanya terpaksa menjual sebidang tanah seluas 2400 M2 dengan harga 70 juta. Uang sebanyak 70 juta tersebut tidak langsung dia terima sepenuhnya, melainkan hanya 30 juta saja, selebihnya digunakan orang tua untuk melunasi hutang-hutang yang ada. Perlu diketahui pada saat itu, biaya sekolah ke Mekkah sebanyak 40 juta, dengan uang 30 juta yang dipegang saat itu berarti dia masih kekurangan 10 juta lagi. Berbekal keyakinan diri, Tuan Guru dengan satu orang anak ini mencari hutang demi mencukupi biaya perjalanan ke Mekkah. Selama menempuh pendidikan di Mekkah, biaya pendidikan dia cari sendiri melalui berbagai macam kegiatan dan pendampingan ibadah haji dan umrah disetiap tahunnya.
MEMBANGUN MADRASAH UNTUK MENCETAK GENERASI ISLAM
Setelah selesai menempuh pendidikan di Mekkah pada tahun 2011 silam, Tuan Guru yang dulu sempat menjadi vokalis Kecimol (sejenis musik dangdut keliling) ini kemudian membangun sebuah yayasan, yayasan tersebut didirikan olehnya dan dibantu oleh masyarakat disekitarnya. Meskipun diawal kepulangannya dia sendiri tidak pernah berfikir untuk membangun yayasan, namun karena dorongan yang kuat dari masyarakat akhirnya yayasan tersebut bisa terwujud. “alhamdulillah dengan Azam yang kuat serta didorong oleh masyarakat yayasan ini bisa terwujud dan berjalan dengan baik” ungkapnya. Yayasannya sendiri diberi nama Madinatul Ulum yang mengelola Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Majlis Ta’lim, Panti Asuhan dan lain sebagainnya. jumlah santri yang menempuh pendidikan disana tidak kalah banyak dengan yayasan-yayasan yang sudah lama berdiri, santri-santriawatinya pun berasal dari berbagai daerah, termasuk beberapa orang dari luar pulau lombok. santri santriawati yang belajar didalamnya disibukkan dengan berbagai macam kegiatan, dimulai dengan salat Tahajud pada jam 03.30 pagi sampai dengan mengaji kitab-kitab kuning di malam harinya. Semua itu dia lakukan tidak ada tujuan lain kecuali untuk mencetak generasi islam yang rahmatan lilalamin. Baginya kunci kesuksesan adalah tekad yang kuat serta harus didasari dengan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Komentar atas TGH. Ahmad Barizi
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silahkan datang / hubungi perangkat desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukan NIK dan PIN
Komentar Terkini
Lokasi Montong Gamang
Statistik Pengunjung
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- MUSYAWARAH DESA KHUSUS VERIFIKASI DATA KEMISKINAN TERPADU
- SELAMAT HARI JADI KE 79 KABUPATEN LOMBOK TENGAH
- Kunjungan kader Posyandu Desa ke Dusun di desa montong gamang
- agenda musyawarah Desa khusus perubahan data penerima BLT terdeteksi ganda
- Selamat Hari Jadi ke-77 kabupaten lombok tengah
- Pembagian BPNT pusat
- Pemerimtah desa menyalurkan bantuan untuk korban banjir lombok














